Akhir Ceritaku Di 2020 : Ada Suka, Ada Duka

 

Akhir Ceritaku di 2020


Akhir ceritaku di 2020 rasanya campur aduk. Aku masih bisa mengingat dan merasakan apa yang terjadi dari awal 2020 sampai akhir 2020 ini.  Yang pasti banyak muncul hal tak terduga dalam hidup.

Awal Januari 2020 aku, suami dan ibu masih sempat sedikit bersenang-senang dengan liburan ke Slawi, Tegal. Walau keberangkatan kami ke Tegal dalam rangka menengok kakak dari Ibu yang hampir berusia 100 tahun namun tak mungkin juga aku dan suami hanya duduk diam di penginapan.

Tantangan odopicc



Februari 2020 menjadi pembuka kesedihan dimana kakak dari ibu yang baru saja kami tengok meninggal dunia. Tidak lama menyusul kakak dari ibu yang lain meninggak dunia juga. Walau keduanya sudah berusia jompo namun yang namanya ditinggal pergi ke alam barzah tetap saja menyisakan kesedihan.

Badai Itu Bernama Corona

Tiba-tiba Maret 2020 mendadak aku sering sekali lembur sampai malam. Banyak pelanggan meminta kantorku melakukan penyemprotan disinfektan.

2 Maret 2020 mungkin sejarah tercipta di Indonesia dimana COVID-19 sudah hadir dan keberadaannya dekat sekali dengan kita.

Maret, April Dan Mei 2020 aku masih sangat santai menghadapi situasi pandemi di Indonesia. Tapi rasa santai itu berubah drastis manakala mengetahui pada bulan Juni 2020 untuk sementara waktu suamiku dirumahkan sampai bandara Juanda normal kembali beroperasi. Dan hal tersebut berlaku sampai waktu yang tak ditentukan.

Kalian tahu sendiri Pembatasan Sosial Berskala Besar sangat mempengaruhi sektor penerbangan di Indonesia. Banyak terjadi PHK di semua sektor khususnya penerbangan. 

Juni 2020 aku dan suami pun mulai beradaptasi menjalani bahtera rumah tangga dengan sumber 1 kaki mata pencaharian yaitu diriku. 

Walau mulai sedikit pincang namun aku masih bersyukur bahwa kami masih diberi penghasilan dan sedikit tabungan untuk memulai hidup dengan keterbatasan.

Mulailah kami memikirkan membuka usaha kecil-kecilan setidaknya agar suami ada aktivitas di rumah sampai dipanggil oleh kantornya kembali. Dan juga agar suami memiliki penghasilaan walau sedikit karena yang terpenting bagiku ikhtiar maksimal akan lebih baik ketimbang rebahan tak berguna.

Alhamdulillah dalam waktu 2 bulanan kami sudah memiliki pelanggan yang membeli di warung sembako kami. Yah... walaupun pelanggan tersebut masih tetangga sendiri. Tertatih-tatih kami jalani usaha yang masih merangkak ini. 

Mungkin cerita perjuangan di balik usaha dagang sembako kami akan aku ingat sepanjang masa dan hanya aku yang bisa merasakan rasa lelah yang mendera. 

Karena selain bekerja di kantor, aku juga menyisihkan waktu dalam berbelanja barang dagangan, berkeliling dengan suami mencari supplier sembako dan aktivitas lainnya. Belum lagi pekerjaan rumah sehari-hari sehingga rasanya waktu 24 jam sehari kurang bagiku.

Ketika Suami Kembali Dipekerjakan

Sujud syukur aku dan suami panjatkan ketika September 2020 secercah harapan mulai menerangi kehidupan rumah tangga kami khususnya dalam hal ekonomi. Suami mulai dipanggil kembali untuk bekerja di sektor penerbangan dan Alhamdulillah sampai sekarang. 

Jadwal penerbangan di Indonesia semakin normal dan geliat perekonomian yang semakin membaik membuat banyak sektor usaha hidup lagi.


Harapanku di 2021

Banyak sekali kenangan di 2020 dan tidak bisa dengan mudahnya aku hapus dalam memori. Ada rasa sedih, namun juga berdecak kagum pada diri sendiri dengan mengatakan dalam hati : "ternyata aku bisa melewati badai pandemi ini".

Tentu saja aku tidak boleh menjadi takabur ketika mampu melewati pandemi karena kita tak akan pernah tahu bagaimana ke depannya dunia ini.

Sebisa mungkin di 2021 aku ingin melakukan hal berikut : 
  • Lebih bersyukur ketika menjalani hidup.
  • Berhati-hati dalam mengelola keuangan rumah tangga.
  • Mulai menabung untuk hal-hal darurat jika bencana seperti pandemi terulang lagi.
  • Membiasakan untuk tidak tidur lagi setelah subuh.
  • Menjaga kesehatan dan sangat berhati-hati  ketika terserang sakit.
Banyak harapan di 2021 ini untukku pribadi dan keluarga besar. Adapun harapanku di 2021 antara lain :
  1. Memiliki usaha sampingan yang bisa aku andalkan ketika pandemi atau bencana terjadi.
  2. Lebih sabar dalam menghadapi cobaan dari Allah SWT.
  3. Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan memperbanyak ibadah dan sedekah
Demikian ceritaku di tahun 2020 dan Insha allah aku siap menghadapi tantangan di tahun 2021. Akhir ceritaku di 2020 memang tak melulu hanya kesedihan namun setidaknya aku bisa banyak belajar di tahun kemarin akan nilai kehidupan dan mengatasi masalah.

Semoga kita semua bisa mengambil hikmah atas semua peristiwa di tahun 2020 ya teman.



Maria Tanjung Sari
Maria Tanjung Sari Selamat datang di blog pribadi saya. Blog ini menerima kerjasama Content Placement. Jika ingin bekerjasama silahkan hubungi saya via email mariatanjung81@gmail.com atau direct message via Instagram @mariatanjungmenulis

6 komentar untuk "Akhir Ceritaku Di 2020 : Ada Suka, Ada Duka"

  1. Semoga 2021 nggak menjadi 2020 session 2. Amin.

    BalasHapus
  2. aku masih inget cerita mba tanjung di post yang lama, yang soal awal awal pandemi, pasti semua "shock" dengan keadaan yang nggak terduga ini
    bagaimanapun kita tetep berusaha mencari jalan keluar ya mbak
    semoga harapan di 2021 bisa terwujud ya mba

    BalasHapus
  3. Semangaat mba mariaaa. Aku juga pengin banget punya usaha sampingan. Yg skrg belum maksimal sihh, masih angot2an huhu.
    Mudah-mudahan 2021 lebih baik buat kita semua yaaa. Aamiin

    BalasHapus
  4. Ternyata gak cuma keluargaku aja yg kena dampak pandemi ini.. pekerjaan suami dan usaha Orangtua kena dampak Covid-19 tapi Alhamdulillah kita sedang berusaha memulai lagi bangkit

    BalasHapus
  5. 2020 memang luar biasa. Banyak cerita tak terduga, tapi juga banyak hikmah luar biasa. Eh, baru ngeh ini baru ya blognya, semakin sukses ya mbak ngeblognya di 2021. Aamiin.

    BalasHapus
  6. Mbak Maria hebat. Insha Allah target dan harapan yang dibuat Mbak Maria terlaksana dan tercapai. Aamiiin. Semangat!! :)

    BalasHapus