Plus Minus Menjadi Seorang Working Mom

 
Sumber Gambar: Pexels

Saya suka salut dengan beberapa teman yang menjalankan dua profesi sekaligus dalam hidupnya, menjadi wanita karir sekaligus sekaligus ibu rumah tangga yang juga mengurus anak-anak dan suami. Menjadi working mom itu berat lho! Saya memang belum dikaruniai anak, namun bisa banget merasakan perjuangan perempuan yang sudah menikah, hamil, melahirkan namun juga tetap sambil bekerja mencari nafkah.

Memang perempuan tidak memiliki kewajiban untuk mencari nafkah apabila sudah menikah. Namun diakui atau tidak, kita hidup di masa yang bisa dikatakan kebutuhan hidup sudah amat sangat mahal dan apabila hanya satu orang saja yang bekerja dalam suatu rumah tangga, yaitu suami, maka bisa dibilang terasa berat. Jika kalian yakin penghasilan suami akan cukup selama sebulan, sehingga istri hanya fokus mengurus anak saja, maka lakukanlah!

Namun tak sedikit pasangan suami istri yang merasa berat apabila harus mengandalkan nafkah dari suami saja dalam memenuhi kebutuhan bulanan. Apalagi jika pasangan suami istri tersebut sudah memiliki momongan, tentu beban berat ada di pundak suami ketika harus mencari nafkah seorang diri. Saya saja yang belum punya momongan, merasa berat apabila suami sendirian yang mencari nafkah. Mungkin karena sejak belum menikah, saya sudah terbiasa bekerja, sehingga ketika menikah pun saya merasa harus tetap bekerja.

Sebenarnya bekerja itu bukan melulu mengenai uang lho. Bekerja merupakan sarana bagi saya untuk mengaktualisasikan diri. Jadi saya pernah mencoba mengambil cuti dan benar-benar saya pergunakan untuk istirahat total di rumah. Alhasil, saya pun bingung cuti selama 3 hari hanya berada di rumah saja tanpa melakukan apapun. 

Dari pengalaman saya cuti 3 hari dan hanya berada di rumah saja, akhirnya saya memutuskan untuk terus bekerja selama fisik ini masih sehat. Hal ini dikarenakan saya merasa enjoy ketika berada di kantor dan melakukan pekerjaan layaknya seorang karyawan kantoran.

Lalu mengapa sih seorang perempuan yang sudah menikah itu memutuskan untuk tetap bekerja di luar, berikut alasannya yang sudah saya rangkum berdasar cerita dari beberapa teman dekat yang menjadi working mom:
  • Bekerja Untuk Menopang Penghasilan Suami
Ada teman yang jelas-jelas meminta saya mencarikan info lowongan kerja untuknya, karena dia merasa penghasilan suaminya tidak mencukupi di saat dirinya sedang hamil anak kedua. Dilema memang, apalagi ketika teman saya ini memiliki anak yang masih berusia tiga tahun. Untung ada nenek yang siap menjaga cucunya, sehingga teman saya merasa tenang ketika bekerja di kantor.

Dari pengakuan teman saya terkuak bahwa sebenarnya dia juga menjalankan bisnis online seperti menjual peralatan rumah tangga, namun ternyata untung tak seberapa. Tentu saja ketika diterima bekerja kantoran dan menerima gaji tiap bulan, membuat teman saya merasa nyaman dan tak perlu risau dengan kurangnya pendapatan suami yang mesti dikelola tiap bulan.
  • Mengaplikasikan Ilmu yang Sudah Didapat
Saya pernah mendengar Ibu bercerita mengenai anak tetangga yang tidak bekerja selepas menikah. Dan ternyata Ibu dari anak tersebut, yang notabene merupakan teman pengajian Ibu saya, sangat menyayangkan keputusan anaknya yang melepaskan posisinya di salah satu perusahaan notaris yang ada di Ibukota Jawa Timur.

Jadi Ibu dari si anak ingin agar putrinya tetap bekerja karena merasa sayang dengan biaya kuliah yang sudah dikeluarkan selama kurang lebih 4 tahun tersebut, begitu curhatan yang didengar oleh ibu saya. Sebenarnya orang tua akan ikhlas dengan semua biaya yang dikeluarkan untuk anak, saya yakin akan hal itu. Namun mungkin dengan si anak bekerja akan memberikan rasa bangga terhadap orang tua yang sudah susah payah menyekolahkan buah hatinya tersebut. Just my opinion saja sih.

Jadi jika ada perempuan yang sudah berstatus istri dan juga ibu namun tetap ingin bekerja, maka bisa jadi karena ada keinginan dalam dirinya untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat ketika berada di bangku kuliah. Pada beberapa kondisi, profesi tersebut tetap bisa kok diaplikasikan sambil mengurus rumah tangga. Kita ambil contoh seorang Psikolog wanita yang tetap bisa membuka praktik di rumah sambil mengurus rumah tangga misalnya.
  • Tidak Ingin Bergantung Pada Suami
Terus terang saya termasuk ke dalam golongan ini, yaitu tidak ingin bergantung pada suami ketika sudah menikah, sehingga saya putuskan untuk tetap bekerja walau sudah menjadi seorang istri. Tapi walaupun begitu, saya harus tetap patuh dan taat kepada suami karena biar bagaimanapun suami merupakan kepala rumah tangga.

Jadi saya melihat beberapa kasus dimana istri merasa canggung apabila semua kebutuhannya harus dipenuhi dengan meminta uang ke suami terlebih dahulu. Sebagai contoh membeli kosmetik dan skin care yang harus meminta uang ke suami. Walaupun hal tersebut menjadi kewajiban suami, namun ada beberapa istri yang merasa canggung. "Beli kosmetik saja harus minta suami", begitu yang tercetus dari mulut teman saya suatu ketika dia curhat.

Lalu saya lihat di kantor ada teman teknisi yang hampir tiap hari ditelepon istrinya dari rumah. Ternyata istrinya hanya ingin meminta persetujuan atas keputusan yang dibuatnya. Dalam hati saya, "apa istrinya tidak punya keberanian untuk memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan keluarga mereka?". Tentu saja bukan tanpa alasan saya berpikir seperti itu, karena saya pribadi terbiasa mandiri bahkan sebelum menika sekalipun. Dan bagi saya setelah menikah pun saya harus tetap mandiri, tidak mengoper segala jenis pekerjaan di rumah kepada suami.
  • Harus Mencukupi Kebutuhan Hidup Orang Tua
Setiap orang pasti memiliki prioritas dalam hidupnya. Seorang perempuan yang sudah menikah dan punya anak, pastinya punya orang tua dimana pada beberapa kondisi ada anak perempuan yang masih harus memberi nafkah kepada orang tuanya meskipun sudah menikah.

Jadi jika ada perempuan yang bertekad untuk bekerja setelah menikah, bisa jadi ada motivasi di balik itu semua, salah satunya adalah tanggung jawab terhadap orang tua yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Syukur-syukur jika suami mau memahami bahkan ikut membantu perekonomian mertua. Namun kita tidak pernah tahu kondisi keuangan masing-masing pasangan suami istri.

Dalam rumah tangga tentunya istri berperan penting untuk menjaga agar segala kebutuhan tetap terpenuhi. Bak menteri keuangan, istri memiliki kemampuan mengatur pendapatan dan pengeluara agar tak terjadi kebocoran yang fatal. Percayalah, segala sesuatu tentang perempuan itu menarik untuk dibahas dan didiskusikan. Ingat, didiskusikan lho ya, bukan untuk dighibah! 

Namun tentu saja mengatur keuangan keluarga akan lebih imbang apabila tidak didominasi oleh perempuan saja. Suami pun harus mengetahui dan memahami bahwa ternyata mengatur gaji darinya sebagai kepala rumah tangga itu tak mudah lho! Sampai-sampai istri harus rela menjadi working mom di tengah kesibukannya mengurus rumah tangga juga.

Berikut plus minus menjadi seorang working mom yang mungkin bisa menjadi referensi ketika kalian memutuskan untuk bekerja setelah melahirkan atau justru memutuskan untuk resign dan menjadi ibu rumah tangga penuh.

1. Working Mom Dapat Mandiri Secara Finansial

Sejatinya siapa yang tidak ingin mandiri secara finansial dan tidak merepotkan orang terdekat. Saya pun ingin seperti itu meskipun sudah menikah dan bersyukur memiliki suami yang memahami keinginan saya untuk tetap bekerja walau sudah berpredikat sebagai istri,

Menjadi working mom setidaknya bisa mandiri secara finansial dan bisa jadi cara untuk mengantisipasi apabila ada hal-hal yang tak diinginkan terjadi pada suami. Namanya hidup, kita tidak akan pernah tahu takdir ke depannya, sehingga apabila sudah saling sepakat dengan pasangan maka istri dapat menjalani profesi sebagai ibu rumah tangga sekaligus sebagai karyawan kantoran.

2. Working Mom Sedikit Memiliki Waktu Dengan Anak

Pada umumnya pekerja kantoran harus bekerja selama kurang lebih 8 jam setiap pekannya. Bersyukur jika Sabtu libur, maka ada waktu 2 hari bagi pekerja kantoran untuk menikmati istirahat di rumah. Sementara kalau saya, harus siap bekerja di hari Sabtu walau hanya setengah hari dan tetap saja menyita waktu di luar rumah.

Ketika sudah menjadi istri dan ibu, otomatis working mom yang bekerja di luar rumah akan mengalami penurunan intensitas waktu bertemu dengan anak. Apalagi jika anak masih bayi maka working mom akan banyak kehilangan golden moment bersama anak.

Namun segala sesuatu di dunia ini pasti sudah ada konsekuensinya apabila itu merupakan pilihan kita sendiri. Menjadi working mom di luar rumah tentu saja mengurangi waktu bertemu dengan buah hati, namun kebutuhan secara finansial akan tercukupi. Kalian pilih yang mana, semua adalah kesepakatan yang dibuat bersama pasangan tentunya.

3. Working Mom Sedikit Banyak Mampu Mengambil Keputusan Dalam Rumah Tangga

Point nomor 3 ini adalah benar-benar pendapat saya pribadi yah. Tentu saja banyak kok ibu rumah tangga yang bisa mengambil keputusan sendiri apabila suaminya sedang berada di luar kota misalnya. Hal ini terjadi pada kakak ipar saya dimana suaminya alias kakak kandung saya harus bekerja di lepas pantai dan pulang sebulan sekali. Karena sudah terbiasa, kakak ipar saya menjadi mandiri dan mampu mengambil keputusan manakala suami sedang bekerja selama sebulan meninggalkan keluarga.

Namun dengan menjadi istri dan ibu yang juga bekerja di luar rumah, sedikit banyak tentunya memiliki banyak link pertemanan dan bisa mendapat berbagai informasi yang lebih luas lagi. Dengan adanya informasi yang luas ini, maka akan memengaruhi pola berpikir seorang perempuan, sehingga dia akan menjadi lebih mandiri dan mampu mengambil keputusan di saat sulit sekalipun.

4. Pengeluaran Lebih Banyak

Ketika menjadi working mom, kalian akan mengeluarkan biaya ekstra untuk beberapa hal. Sebut saja menaruh anak di tempat penitipan anak atau Daycare, menggaji Asisten Rumah Tangga (ART) serta beberapa pengeluaran lain yang mungkin akan terjadi sebagai bentuk kompensasi atas keputusan seorang istri dan ibu bekerja.

Tidak ada yang salah dengan peneluaran ekstra tersebut. Namun jika gaji yang didapat seorang working mom sama dengan biaya yang harus dikeluarkan, maka tentu perlu dipertimbangkan kembali keinginan untuk bekerja di luar rumah. Kecuali profesi yang kalian jalani sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum menikah dan merupakan profesi yang sudah ada ketetapannya, seperti Pegawai Negeri Sipil.

Adapun plus minus menjadi seorang working mom di atas adalah pendapat pribadi saya lho, gaes. Tidak serta merta menjadi pembenaran sehingga akhirnya memaksakan diri bekerja. Semua perlu pertimbangan, dan menurut saya jangan korbankan anak hanya demi keinginan pribadi bekerja dan memiliki pendapatan sendiri. Ingatlah, bahwa waktu kita sebagai ibu dengan anak itu sebenarnya sedikit sekali sampai akhirnya mereka beranjak dewasa. Jadi ketika hendak memutuskan menjadi working mom, maka pertimbangkan secara matang agar tak ada pihak yang dirugikan.

Semoga bermanfaat.
Blogger Surabaya
Blogger Surabaya Selamat datang di blog pribadi saya. Blog ini menerima kerjasama Content Placement. Jika ingin bekerjasama silahkan hubungi via email mariatanjung7@gmail.com

1 komentar untuk "Plus Minus Menjadi Seorang Working Mom"

  1. Kalo ngomongin wanita, apalagi IBU, pasti fikiran akan melayang jauh dengan fikiran,,,
    "seusia saya yg bukan ABG lagi, apakah saya sudah berhasil membahagiagan IBU...." 😥

    BalasHapus