Hapus Stigma Pada Penderita Kusta: Mari Ciptakan Akses Kesehatan Inklusif

 

Apa yang terbersit dalam benak Anda manakala mendengar berita mengenai penderita kusta? Tentu dalam bayangan kalian adalah seseorang dengan kelainan fisik pada tangan maupun kaki yang ditunjukkan adanya bercak berwarna putih mirip seperti penyakit panu dan juga pada sebagian penderita nampak cacat pada kedua anggota tubuh tersebut.

Kusta atau juga dapat disebut dengan lepra merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Adapun bakteri yang menyerang dinamakan bakteri Mycobacterium Leprae dimana akan menimbulkan bercak berwarna putih maupun kemerahan pada kulit tubuh seseorang.

Bakteri ini akan menyebabkan terganggunya sistem saraf motorik dan juga sensorik pada manusia sehingga bisa menyebabkan mati rasa, dan apabila tidak ditangani secara serius melalui tindakan medis dapat berakibat seperti kebutaan atau cacat permanen di beberapa anggota tubuh seperti tangan dan kaki.

Entah bagaimana awal mula mitos berkembang, hingga pernah dahulu kala kusta dianggap penyakit yang memalukan dan aib bagi keluarga. Stigma negatif bagi penderita kusta pun masih melekat walau mereka sudah sembuh dari sakitnya. Dan mungkin di zaman yang sudah modern seperti saat ini stigma negatif itu masih melekat pada beberapa penyandang disabilitas termasuk orang dengan kusta.

Beberapa stigma negatif yang kerap diterima oleh penyandang disabilitas kusta, sebut saja:
  1. Dikucilkan oleh masyarakat setempat
  2. Sulit dalam mendapat pekerjaan
  3. Sulitnya dalam mengakses pelayanan publik seperti kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya.
Berdasarkan data yang dirilis melalui Bappenas pada tahun 2018 dimana masih ada 21,8 juta atau setara dengan 8,26 persen penduduk Indonesia merupakan penyandang disabilitas. Orang dengan penyakit kusta merupakan salah satu dari penyandang disabilitas, apakah itu pasien kusta, penyandang disabilitas kusta maupun OYPMK atau kepanjangan dari orang yang pernah mengalami kusta.

Atas dasar masih banyaknya stigma negatif terhadap para penderita kusta inilah, maka Ruang Publik KBR mengadakan talkshow pada tanggal 22 Juli 2021 bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Subang dan juga aktivis kusta, memberikan sosialisasi kepada beberapa influencer yang tergabung di dalamnya untuk mendapat penjelasan lebih detail bahwa kusta bukan penyakit berbahaya serta dapat disembuhkan apabila mendapat penanganan secara medis dan dapat kembali ke masyarakat untuk bekerja juga berkarya. 


Talkshow Ruang Publik KBR: Bagaimana Menciptakan Akses Kesehatan Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas dan Kusta

Kepedulian pemerintah dan juga relawan yang tergabung dalam suatu komunitas kepada penyandang disabilitas termasuk penderita kusta menggagas inisiatif dalam mengadakan Talkshow yang bertema Menciptakan Akses Ksehatan Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas dan Kusta.

Talkshow yang dipandu oleh Ines Nirmala sebagai moderator, menghadirkan dua narasumber yaitu:

1. Bapak Suwata dari Dinas Kesehatan Kabupaten Subang

Dalam talkshow tersebut, ada beberapa point yang disampaikan oleh Bapak Suwata selaku narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Subeng yaitu beliau mengemukakan bahwa orang yang pernah dan sedang menyandang disabilitas kusta merupakan sesuatu yang masih menjadi masalah sosial dikarenakan pemahaman serta penerimaan dari masyarakat setempat yang masih kurang.

Dinas Sosial sendiri mencatat adanya 11.872 kasus disabilitas termasuk di dalamnya penyandang kusta yang ada di seluruh Indonesia. Di Kabupaten Subang sendiri masih tinggi tingkat prevalensi cacat yang diakibatkan oleh kusta. Tahun 2018 terdapat 7 kasus, lalu di tahun 2019 meningkat menjadi 9 kasus hingga tahun 2020 lalu kasus kusta menjadi 12 kasus.

Menurut Bapak Suwata, Dinas Kesehatan sendiri sudah berupaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, pendidikan serta penyediaan lapangan kerja bagi penyandang disabilitas kusta. Ada 3 program yang sudah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Subang, yaitu:
  1. Melakukan advokasi pada pemerintah daerah terkait dengan Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 tentang pemenuhan hak penyandang disabilitas.
  2. Mengajak peran serta  masyarakat dalam menerima penyandang disabilitas kusta dalam membuka kesempatan kerja bagi mereka.
  3. Mengintegrasikan layanan kesehatan inklusif dengan mengaktifkan forum SKPD. Forum SKPD sendiri merupakan kepanjangan dari Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bertujuan untuk mendapatkan aksesibilitas yang baik bagi penyandang disabilitas termasuk di dalamnya orang dengan kusta.
Dinas Kesehatan Kabupaten Subang sendiri sudah mempersiapkan 4 prioritas kegiatan untuk menghadapi da menangani orang dengan kusta. 4 Program tersebut antara lain:
  1. Leprosy Control pengendalian dan mencegah penyebaran penyakit kusta
  2. Mencegah kecacatan pada penderita kusta dengan pengobatan.
  3. Pemberdayaan disabilitas dan peningkatan skill bagi penyandang disabilitas termasuk orang dengan kusta.
  4. Pengurangan stigma dan diskriminasi malalui komunikasi dengan perangkat desa dan warga sekitar.

2. Bapak Ardiansyah sebagai aktivis Kusta dan sekaligus Ketua PerMata Bulukumba. 

PerMata sendiri merupakan kepanjangan dari Perhimpunan Mandiri Kusta dimana organisasi tersebut didirikan untuk melakukan advokasi terhadap kebijakan apabila ada penolakan masyarakat di Bulukumba terhadap penyandang disabilitas kusta.

Beberapa point yang disampaikan oleh Bapak Ardiansyah dalam talkshow bersama KBR antara lain:
  • Stigma dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas kusta masih tinggi
  • Dalam 2 tahun terakhir ini PerMata memberikan sosialisasi dan berperan dalam penanaman pemahaman kepada masyarakay untuk dapat menerima keberadaan orang dengan kusta maupun yang sudah sembuh dari kusta.
  • Para beberapa kasus, orang dengan disabilitas kusta masih belum bisa mengakses pelayanan di Rumah Sakit Umum. Orang dengan disabilitas kusta masih bisa berobat di skala Puskesmas sedangkan untuk beberapa kondisi, sarana dan prasarana kesehatan  di Puskesmas masih belum maksimal.

Penutup

Demikian ulasan singkat saya mengenai Talkshow yang bertema Akses Kesehatan Inklusif bagi Penyandang Disabilitas termasuk Orang Dengan Kusta. Peran masyarakat sangatlah mendukung agar penyandang disabilitas termasuk orang dengan kusta dapat kembali ke masyarakat setelah sembuh dari sakit dan memberi kesempatan bagi mereka untuk berkarya juga bekerja.

Seperti yang disampaikan oleh Bapak Suwata bahwa: KUSTA BISA SEMBUH DAN DIOBATI.


Blogger Surabaya
Blogger Surabaya Selamat datang di blog pribadi saya. Blog ini menerima kerjasama Content Placement. Jika ingin bekerjasama silahkan hubungi via email mariatanjung7@gmail.com

35 komentar untuk "Hapus Stigma Pada Penderita Kusta: Mari Ciptakan Akses Kesehatan Inklusif "

  1. Makasih sharingnya kak maria, betul penderita kusta juga manusia jadi jangan dikucilkan

    BalasHapus
  2. Stigma negatif itu telah terlanjur melekat. Butuh partisipasi semua pihak untuk benar-benar menghilangkannya. Semoga masyarakat semakin teredukasi dan pemerintah pun terus aktif memberikan penyuluhan tentang hal itu.

    BalasHapus
  3. Sedih deh bacanya ya allah semoga mereka tegar menghadapinya yah kak dan kita diberikan kemurahan hati

    BalasHapus
  4. Sepakat banget mbak kl kusta bisa sembuh dan bisa diobati. Kebetulan aku juga punya tetangga yg dulunya mengidap penyakit kusta. Alhamdulillah saat ini beliau sudah sehat dan baik2 saja. Masyarakat sekitar jg nggak mengucilkan. Semoga makin byk masyarakat yg tahu kl penyakit kusta tuh bukan kutukan ya mbak

    BalasHapus
  5. Bener banget loh. Dulu punya teman yang menderita kusta di jauhin banget. Orang pada takut kalau deket. Btw thanks ya sharingnya bermanfaat sekali.

    BalasHapus
  6. Iya nih masa sih jaman udah modern gini masih aja berkembang stigma negatif tentang kusta. Bener deh kusta bukan penyakit berbahaya serta dapat disembuhkan apabila mendapat penanganan secara medis dan dapat kembali ke masyarakat untuk bekerja juga berkarya.

    BalasHapus
  7. agak rasis ya kalau karena suatu penyakit jadi dijauhi, padahal siapa yang ingin terkena sakit terlebih seperti kusta. so sad banget ya, tapi stigma nya emang melekat banget. edukais masyarakat harus digempur, lewat talkshow seperti KBR ini salah satunya

    BalasHapus
  8. Di Tangerang juga ada semacam RS kusta. Sayang penyintasnya banyak yg ngemis. Miris

    BalasHapus
  9. Aku dulu pernah punya temen kantor yang ciri-cirinya kayak disebutin di atas. Tapi alhamdulillah, lingkungan di kantor support beliau, tidak ada yang mengucilkan.

    BalasHapus
  10. Itu menjadi hal yang perlu diluruskan ya mom. Penderita kusta juga merasa beda kan. Jadi sebaiknya kita pun perlu tau ilmu ini

    BalasHapus
  11. Aku sendiri baru banget teredukasi kusta setelah baca ini dan lihat video siaran ulangnya di KBR mbaa. Jadi memang kalau mau stigma negatif hilang harus rajin2 sosialisasi ke masyarakat ya

    BalasHapus
  12. permasalahan terberat suatu penyakit kalau sudah urusannya dengan stigma.. semoga dengan gempuran sosialisasi dan edukasi, permasalahan stigma ini bisa dikurangi, syukur2 jika bisa dihilangkan, dan akses kesehatan inklusif bagi disabilitas karena kusta atau orang yang pernah mengalami kusta bukan sekedar wacana

    BalasHapus
  13. Senang sekali sekarang penderita kusta sudah diperhatikan dan dihargai.. penyakit ini memang terlihat agak menakutkan, padahal tidak menular.. itusebabnya edukasi sangat dibutuhkan..

    BalasHapus
  14. Aslinya masing-masing mendapatkan kesempatan yang sama di masyarakat ya Mbak. Karena stigma masyarakat ini memang kadang bikin gimana gitu ya. Dengan adanya talkshow ini sangat mencerahkan

    BalasHapus
  15. Banyaknya edukasi semacam ini akan membuka stigma masyarakat ya mbak.

    Lagian siapa yg mau sakit, udah sakit dikucilkan pasti nelangsa.

    Semoga makin banyak pihak seprti KBR ya. Banyak tulisan yg edukatif semacam tulisan mbak ini

    BalasHapus
  16. Memang susah ya kalau stigma penyakit kusta itu sudah menempel bertahun-tahun, padahal penyakit ini bisa disembuhkan dengan baik ya, semoga dgn edukasi ini makin banyak orang yang tercerahkan

    BalasHapus
  17. Saya juga ikutan acara ini. Sangant membantu untuk kita tahu bahwa ada problem kesehatan yang masih harus kita sikapi dan hadapi. Cukup berat sih buat mereka, terutama karena kondisi pandemi.

    BalasHapus
  18. Jadi teredukasi nih masalah kusta. Padahal stigma di masyarakat ya gitu. Seperti yang sudah dipaparkan di atas padahal tidak demikian ya mbak

    BalasHapus
  19. Aku tidak begitu paham kusta di kulit itu bentuknya gimana. belum pernah lihat soalnya.Dan kayaknya di Indonesia kebanyakan di wilayah timur ya..

    BalasHapus
  20. Semoga stigma mengenai kusta pada masyarakat bener2 bisa berubah dengan benar agar penyakit ini bisa ditangani dengan baik

    BalasHapus
  21. Semoga semakin banyak seminar dan bantuan untuk penderita kusta. Agar mereka bisa hidup dengan nyaman di masyarakat juga.

    BalasHapus
  22. Dinas Sosial sendiri mencatat adanya 11.872 kasus disabilitas termasuk di dalamnya penyandang kusta yang ada di seluruh Indonesia ya .. sebenarnya tak banyak, butuh keluasan hati dari para pengambil kebijakan dan masyarakat untuki memberikan mereka akses. Khusus kusta kan sebenarnya bisa disembuhkan ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener2 ngga nyangka yaa mba kalau 11ribu ternyata sebagian juga penderita kusta. Beneran jadi edukasi banget sih artikel semacam ini

      Hapus
  23. Laily Fitriani20.42.00

    Sepakat untuk menciptakan ruang akses inklusif bagi penderita kusta Mbak, karena sangat penting saat ini, dan perlu adanya sosialisasi pada masyarakat tentang penyakit kusta dan penderitanya, agar hidup nyaman dalam masyarakat.

    BalasHapus
  24. Senangnya deh kalau pemerintah terjun langsung dalam memberikan pelayana, kesehatan dan tempat kerja bagi penyandang kusta. Tinggal stigma di masyarakat ya, Mba. Karena, banyak yang masih belum paham betul tentang Kusta. Ada yang bilang penyakit kutukan Tuhan, dan lain-lain. Padahal Kusta ini, walau bisa menular tapi penyebaran tidak masiv dan masih bisa disembuhkan.

    BalasHapus
  25. semoga dengan Talkshow seperti ini semakin banyak orang teredukasi tentang penyakit kusta yaa Mbak, dan para penyintas atau OYPMK ini bisa punya kesempatan yang sama juga untuk mengembangkan diri mereka, bisa berkarya layaknya manusia lainnya.

    BalasHapus
  26. Stigma bahka penyakit kusta adalah kutukan dan engga bisa disembuhkan perlu dihilangkan. Caranya dengan melakukan edukasi terhadap masyarakat. Penderita kusta juga butuh perhatian agar bisa menjalani hidup lebih baik.

    BalasHapus
  27. Tak hanya terhadap penderita kusta ya Mba. Pada dasarnya dilarang mengucilkan siapa pun.

    BalasHapus
  28. Sedih ya mbak hari gini masih ada penderita kusta, semoga segera tertangani dan bisa diminimalisisr deh ya dampak dari penyakit kusta ini

    BalasHapus
  29. Hiya butuh usaha yang bener total ya buat mengedukasi masyarakat yg msh mengaggap Lepra atau kusta penyakit aib kluarga. Saatnya untuk bangkit dan memberi gerak ruang OYPMK agar tdk dikucilkan dan bisa hidup mandiri n normal.

    BalasHapus
  30. Sosialisasi tentang penyakit kusta jelas sangat membantu pemahaman di masyarakat. Jadi stigma negatif tidak terus berkembang dan para OYPMK juga mendapatkan perlakukan yang sesuai.

    BalasHapus
  31. semoga kita semua diberikan kesehatan dna dijauhkan dari penyakit ini. dan semoga yang mengalami sakit ini segera sembuh, tetap semangat para penderita kusta

    BalasHapus
  32. stigma yg sudah mendarah daging, bahkan nenek sayapun sempat menganggap yg isolasi dirumah layaknya kena kusta, takut dan malu jika diungkapkan ke orang banyak, padahal ya bentuk pertahanan akan tubuh kita sendiri hehe

    BalasHapus
  33. Alhamdulillah sudah semakin banyak edukasi serupa ini ya mba, bisa membuka mata masyarakat tentang stigma negatif orang penyandang kusta atau yang pernah terkena kusta. Semoga bisa semakin mudah untuk para penyintas ini bergaul, mendapatkan pekerjaan ataupun layanan publik yang memang hak mereka.

    BalasHapus
  34. Setuju kak, hapus stigma pada penderita kusta. kasihan ya. ada yang sampe ditinggal keluarga sendiri, tidak diakui. semoga dengan acara edukasi begini jadi lebih tersosialisasikan

    BalasHapus